Humoris Belum Tentu Nyantai

Jika ingin menilai tentang “Selera Humor Orang Indonesia”, menurutku sangat bisa kita bahas dengan berpatok pada sekian banyak program TV berbau komedi di Indonesia yang selalu mendapat sambutan meriah. Misalnya seperti Stand Up Comedy Indonesia atau biasa disingkat SUCI, tak terasa sudah sampai putaran ke 7. Kemudian di saluran TV lain ada yang namanya SUCA, acara sejenis SUCI namun dengan versi “Academy“. Inipun udah menyentuh season 3. Bahkan pas awak kecil ada juga program bernama API yang menelurkan Sule. Itu kita masih bahas program komedi berformat kompetisi. Belum lagi kalau bahas film-film komedi karya grup-grup lawak Indonesia. “The Legend” Warkop DKI beserta sederet filmnya, misalnya.

Continue reading

Advertisements

Menjadi Posesif Karena Cinta?

Seringkali telinga awak mendadak gatal menggelitik. Bukan, bukan karena awak jarang membersihkan telinga menggunakan duet maut cotton bud dan baby oil, melainkan ketika secara sengaja ataupun tidak awak mendengar pernyataan yang senada dengan judul tulisan ini dilontarkan mulai dari golongan single fighter hingga para sesepuh yang mengaku sudah mengoleksi hampir selusin mantan.

Continue reading

Smartphone (Malah) Buat Bodoh?

Sebagai seorang yang gemar mengamati sekitar melebihi diri sendiri, tentu yang namanya kesal dan miris bukanlah barang langka bagiku. Kalau ada yang namanya saklar ajaib, kadang rasanya awak pengen berganti posisi ke tipe manusia yang masa bodoh pada sekitar.  Bukan apa, sebagai seseorang yang punya bakat hipertensi, memelihara hobi yang kusebutkan tadi pastilah memiliki resiko.

Continue reading

Ingin Cerdas Dengan Kuliah?

Opung-opung ganti kulit pun tahu bahwasanya kuliah adalah suatu tahap jenjang pendidikan yang melahirkan pemuda-pemudi intelek yang berwawasan luas. Memang sih, secara visi misi, yang berbeda tiap kampus, kebanyakan mengarah kepada kesimpulan itu. Coba buka saja situs resmi kampus atau almamater kampus klen, pasti kata kunci seperti intelektual, dinamis, beretika, berwawasan, dan teman-temannya senantiasa mendapat tempat di bagian visi misi universitas.

Continue reading

Apa yang Membuatmu Orgasme?

Bagi kalian yang memutuskan untuk mengklik link blog-ku dan akhirnya membaca artikel ini, aku tahu apa ekspektasi kalian. Mungkin kalian akan mengira bahwa aku akan membahas berbagai varian fetish unik yang tak disangka-sangka dapat membuat seseorang muncrat sejadi-jadinya. Tapi mengingat pembahasan mengenai topik tersebut lumayan seru, sepertinya lebih baik bila dibahas langsung secara tatap muka plus ditemani sebotol bir, supaya lebih afdol kata orang.

Jadi pada kesempatan kali ini aku ingin membicarakan mengenai apa saja hal-hal, di luar salah satu kebutuhan dasar manusia tadi, yang dapat membuatmu orgasme sejadi-jadinya demi kesenangan pribadi untuk sekedar melupakan betapa hebatnya negeri kita -serta masyarakatnya- ini.

Continue reading

Manusia: Produk Gagal (tuhan) Semesta

1d5b228bb4161141aa2923ea2b24b6a6_red-x-clipart-best-red-x-clip-art_512-439

Kemarin Ahok dituduh menista agama X oleh kaum agama tersebut. Para pro Ahok pun segera pasang badan untuk membelanya. Akhir-akhir ini, seorang Habib dari salah satu ormas yang dikenal barbaric sedang menghadapi banyak tuntutan atas beberapa pernyataan yang dia lontarkan. Mayoritas dari para pendukung Ahok yang kemarin kelelahan membela pujaannya tiba-tiba kebanjiran dopamin dan adrenalin. Sekarang giliran mereka yang bersemangat untuk menjebloskan sang Habib ke penjara. “Counter Attack!”, seru mereka.

Sudahlah, akui saja. Kita sebagai manusia adalah produk gagal dari (tuhan) semesta.

Kita terlalu naif dengan mengatakan “Cinta damai”, padahal gampang orgasme bila melihat seseorang/kelompok satu agama, satu ras dan satu golongan diserang oleh kubu seberang.

Kita terlalu munafik dengan mengatakan “Ah begitu aja dipermasalahkan”, bila yang menjadi korban adalah pihak yang se-identitas kita.

Kita terlalu buta dengan mengatakan “Agama X itu mengajarkan kekerasan”, sementara kita sendiri mudah naik pitam dan menghujat ketika kepentingan kaumnya dirugikan.

Sekali lagi, akui saja, kita adalah produk gagal dari (tuhan) semesta.

Selama kategorisasi berdasarkan identitas tetap hidup di muka bumi ini, aku rasa damai hanyalah ide utopis belaka. Lagipula merupakan sebuah megaproyek maha mustahil untuk menghapus kotak dan sekat pada populasi manusia. Manusia tetaplah manusia, yang dilahirkan ke dunia berikut satu set sifat egois, arogan, dan chauvinis.

Ntah kenapa masih ada saja orang yang semangat menikah dan memiliki anak. Memangnya kalian pikir bumi (dengan segala perangai penghuninya) ini masih layak untuk dihuni?

-dRS-

Protes dan Ego

Semua orang bisa protes tanpa memandang waktu dan tempat. Coba saja iseng pergi ke sembarang tempat. Selama perjalanan menuju tempat yang kita mau, pasti ada saja hal yang membuat gerah lalu tanpa sadar kita memprotesnya. Ternyata memprotes dan mengumpat kesal merupakan hal yang tingkat kesulitannya mendekati 0 alias (selalu) sangat mudah.

Continue reading